![]() |
Para aktor teater Lintang Giri memainkan drama Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatano Sontani di atas panggung. |
arusgiri.com, LPM Spektrum - Di ulang tahun ke 13 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Lintang Giri mempersembahkan Gelar Pentas Perdana Lintang Giri (Gandari). Pentas ini sukses digelar pada hari Sabtu (06/05/2023), di lantai tiga gedung Fakultas Tarbiyah Unugiri.
"Nama Gandari diambil dari salah satu tokoh di Mahabarata, untuk singkatannya yaitu Gelar Pentas Perdana Lintang Giri. Pentas ini pentas perdana untuk temen-temen anggota baru," tutur Okky Dwi Saputra Ketua UKM Teater Lintang Giri.
Acara ini dihadiri oleh undangan dari beberapa sekolah di Bojonegoro, unit kegiatan mahasiswa dari Unugiri dan kampus lain baik dari Bojonegoro maupun luar Bojonegoro, serta beberapa alumni UKM Lintang Giri dan juga beberapa seniman senior.
Pentas dengan tema "Bersama Merangkai Seni di 13 Tahun Lintang Giri" dimulai pukul 19.00 WIB hingga tengah malam tersebut menyuguhkan tiga penampilan drama yaitu; monolog dari Eka Nurul Khoiriyah berjudul Botol Parfum Kosong, monolog Wanci persembahan dari Saung Art_MA- IAINU Tuban, dan drama grub sebagai pertunjukan utama dengan judul Bunga Rumah Makan oleh Teater Lintang Giri.
Masing-masing penampilan teater yang ditampilkan di pentas memiliki pesan mendalam setiap ceritanya. Menurut Siswo Nurwahyudi, monolog Botol Parfum Kosong yang ditulisnya dalam kurun waktu 7 bulan itu menceritakan tentang fenomena korupsi dan pentas meja hukum Indonesia. Di mana peran parfum di meja persidangan sangat membantu pelaku dalam menutupi bau busuk mereka.
"Parfum diciptakan karena manusia ingin menutupi aroma busuk dirinya dan diindustrikan karena semua manusia berpotensi berbau busuk," kata laki-laki berusia 56 tahun tersebut saat bincang setelah acara.
"Aroma parfum justru menyelamatkan dari hukuman gantung," sambungnya.
Monolog yang dibawakan Eka Nurul Khoiriyah membuat penonton memberikan apresiasi yang cukup meriah.
Selanjutnya, penampilan ke dua monolog Wanci yang dibawakan Saung Art_Ma IAINU Tuban pun tidak kalah menarik dan menjadi perhatian besar menonton. Cerita tentang dunia lokalisasi dan lingkaran kehidupan kelam yang terus berputar serta sulit diputus, membuat penonton dapat mengambil hikmah dari pementasan tersebut.
Terakhir, pertunjukan utama yang diperankan anggota baru Lintanggiri dengan tajuk Bunga Rumah Makan juga memiliki pesan moral yang sangat dalam.
“Cerita ini banyak mengandung fenomena sosial terutama tentang perempuan yang sering kali dimanfaatkan dan mereka tidak menyadari itu," sambung Okky Dwi Saputra.
Pertunjukan pentas teater itupun sukses dan mendapatkan banyak apresiasi dari penonton. Miftakhul Jannah salah satu penonton mengaku kagum oleh acara tersebut.
"Pertunjukan teater ini sangat berkesan. Kagum sama aktingnya," ungkap siswi SMKN 4 Bojonegoro.
Adapun tujuan Gandari ini sebagai media pembelajaran bagi aktor-aktornya atau upaya regenerasi anggota teater.
Teks: Nisa dan Rozikin
Foto: Rozikin
Editor: Naufal
Posting Komentar